Dalam rangka mengisi momentum pergantian tahun dengan kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ibadah, Remaja PAC LDII Bulak menyelenggarakan Pengajian Akhir Tahun pada 31 Desember 2025 hingga 1 Januari 2026 di Masjid Sabilurrosyidin, Kecamatan Bulak, Surabaya. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya pembinaan generasi penerus agar tetap berada dalam koridor iman dan takwa di tengah derasnya arus perkembangan zaman.
Salah satu panitia kegiatan, Dea Naswaniyah Anggraini, menjelaskan bahwa pengajian akhir tahun ini dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang membawa pengaruh besar terhadap pola pikir serta perilaku remaja.
“Perkembangan zaman dan teknologi saat ini sangat cepat. Di satu sisi memang memudahkan kehidupan manusia, baik dalam mencari maisyah, menuntut ilmu, maupun beribadah. Namun di sisi lain, teknologi juga memudahkan manusia untuk mencari dosa dan maksiat apabila tidak dibentengi dengan iman dan pemahaman agama,” ujar Dea.
Ia menambahkan, kondisi tersebut diperparah dengan maraknya kegiatan-kegiatan jahiliah yang sejatinya tidak perlu dilakukan oleh seorang muslim atau orang beriman, namun justru berkembang menjadi budaya, terutama pada momen pergantian tahun.
“Banyak kegiatan jahiliah yang lambat laun dapat menggerus keimanan, salah satunya adalah perayaan malam tahun baru. Padahal, tahun baru seharusnya tidak dirayakan, terlebih dengan hal-hal yang berbau maksiat,” tegasnya.
Menurut Dea, pengajian akhir tahun ini dihadirkan sebagai bentuk ikhtiar dan perlindungan bagi generasi penerus LDII agar tidak larut dalam euforia pergantian tahun yang tidak sejalan dengan nilai-nilai keislaman.
“Pengajian ini diharapkan menjadi tameng bagi generus LDII agar tidak ikut-ikutan merayakan tahun baru. Justru sebaliknya, pergantian tahun ini seharusnya menjadi pengingat bahwa usia semakin bertambah dan kita semakin dekat dengan kematian, sehingga perlu lebih banyak muhasabah diri,” jelasnya.
Pengajian akhir tahun tersebut diikuti oleh 42 remaja, Dea menjelaskan bahwa remaja dipilih sebagai sasaran utama kegiatan karena berada pada fase usia yang masih labil dan mudah terpengaruh lingkungan.
“Remaja ini usianya masih labil dan cenderung suka kluyuran, apalagi jika di luar banyak acara-acara jahiliah yang dikemas menarik. Maka kegiatan pengajian ini diharapkan bisa menjadi benteng agar remaja LDII tidak keluyuran pada malam tahun baru,” ujarnya.
Kegiatan ini menghadirkan Rachmat Cahyono, Tim Kurikulum dari Penggerak Pembina Generasi Penerus (PPG) Kecamatan Bulak, sebagai pemateri. Dalam penyampaiannya, Rachmat menekankan pentingnya menyediakan alternatif kegiatan positif bagi remaja, khususnya pada momen-momen rawan seperti malam pergantian tahun.
“Apapun kegiatan positif yang dilakukan remaja di akhir tahun, saya rasa sangat penting. Terlebih jika dimanfaatkan untuk mengaji. Tentunya pengajian perlu dikemas dengan cara yang lebih menarik agar remaja dapat menikmati dan memahami setiap ilmu yang disampaikan,” ungkap Rachmat.
Menurutnya, pengajian yang dikemas dengan baik tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu, tetapi juga memiliki dampak preventif terhadap perilaku negatif remaja. “Kegiatan seperti ini secara langsung dapat mereduksi pengaruh-pengaruh negatif yang umumnya dilakukan anak-anak di usia mereka pada malam pergantian tahun,” tambahnya.
Rachmat juga menyampaikan harapannya agar pengajian akhir tahun mampu memperkuat ketahanan iman generasi muda dalam menghadapi tantangan ke depan. “Harapan yang ingin dicapai adalah remaja memiliki pertahanan iman yang lebih kuat dalam menyongsong tahun selanjutnya. Sebab secara dalil, tahun yang akan datang itu lebih jelek daripada tahun sebelumnya, sehingga iman harus terus dijaga dan ditingkatkan,” paparnya.
Ia mengaku merasa bangga melihat antusiasme para remaja yang memilih datang ke masjid untuk beribadah dibandingkan mengikuti perayaan malam tahun baru di luar. “Remaja yang umumnya menghabiskan waktu pergantian tahun dengan hura-hura, bahkan berbuat maksiat, lalu melihat remaja yang mau datang ke masjid untuk ibadah, saya sangat bangga. Ini menjadi secercah harapan bahwa kondisi bangsa dan agama bisa selalu dalam keadaan baik karena generasinya terjaga,” tuturnya.
Menutup penyampaiannya, Rachmat berpesan agar kegiatan pembinaan remaja seperti pengajian tidak bersifat insidental. “Kegiatan positif seperti ini perlu selalu diadakan, tidak hanya saat malam pergantian tahun. Ini merupakan bagian dari upaya menyiapkan generasi emas di masanya nanti. Kemasan kegiatan bisa menyesuaikan dengan karakter generasi saat ini, namun tetap harus berpedoman pada kaidah-kaidah agama,” pesannya.
Melalui pengajian akhir tahun ini, Remaja PAC LDII Bulak berharap generasi penerus dapat mengisi waktu dengan aktivitas yang bermanfaat, memperkuat iman dan akhlak, serta menjadikan setiap pergantian waktu sebagai sarana evaluasi diri menuju pribadi yang lebih baik, berkarakter luhur, dan siap menjadi penerus bangsa yang berakhlakul karimah. (ysy)
