Sebanyak 400 remaja mengikuti Pengajian Remaja LDII yang diselenggarakan oleh Surabaya Generus Community di Masjid Sabilul Muttaqin, Bronggalan, pada Minggu (21/6/2026) dengan mengangkat tema “Fashion Pakaian Syar’i”, kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai pentingnya berpakaian sesuai syariat Islam di tengah perkembangan fashion yang semakin beragam.
Dalam kesempatan tersebut, Salah satu pemateri yakni Teguh Dwi Saputro yang menyampaikan materi mengenai pentingnya memahami konsep pakaian syar’i bagi remaja laki-laki. Ia menjelaskan bahwa tren fashion yang berkembang saat ini dapat diikuti selama tidak bertentangan dengan ketentuan syariat Islam.
“Pada dasarnya, trend fashion boleh diikuti selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Islam tidak melarang seseorang tampil rapi, menarik, dan mengikuti perkembangan mode. Namun ada batasan yang harus dijaga, seperti menutup aurat dengan baik, tidak mengenakan pakaian yang terlalu ketat atau transparan, tidak menyerupai pakaian wanita, serta tidak bertujuan untuk mencari perhatian secara berlebihan,” jelas Teguh.
Menurutnya, remaja perlu memahami bahwa berpakaian bukan sekadar persoalan penampilan, tetapi juga bagian dari ketaatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu, pemahaman mengenai pakaian syar’i perlu ditanamkan sejak usia remaja dan masa pranikah yang merupakan fase penting dalam pembentukan karakter.
“Masa remaja dan usia pranikah merupakan fase pembentukan karakter dan identitas diri. Pada usia ini seseorang sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan maupun media sosial. Pemahaman tentang berpakaian syar’i penting agar mereka menyadari bahwa berpakaian bukan hanya soal penampilan, tetapi juga bagian dari ketaatan kepada Allah dan bentuk penjagaan kehormatan diri,” ujarnya.
Ia menambahkan, penerapan pakaian syar’i dalam kehidupan sehari-hari tidak harus membuat seseorang tertinggal dari perkembangan fashion. Saat ini telah banyak pilihan busana muslim pria yang modern, nyaman, dan tetap memenuhi kaidah syariat.
“Pakaian syar’i tidak identik dengan pakaian yang kuno atau tidak menarik. Kuncinya adalah memilih pakaian yang menutup aurat dengan baik, sopan, bersih, dan sesuai dengan aktivitas yang dijalani. Ketika syariat dijadikan pedoman, fashion menjadi sarana untuk menampilkan pribadi yang rapi, profesional, dan berakhlak tanpa harus kehilangan nilai-nilai Islam,” ungkap Teguh.

Sementara itu, Dewan Penasihat Remaja LDII Surabaya, Rifa’i, menegaskan bahwa pembinaan terhadap generasi muda perlu terus dilakukan secara berkelanjutan di tengah derasnya berbagai pengaruh yang dihadapi remaja saat ini. Menurutnya, kegiatan pengajian menjadi salah satu sarana penting untuk menjaga keimanan dan akhlak generasi penerus.
“Di tengah derasnya pengaruh terhadap generasi muda, pengurus memiliki tanggung jawab untuk terus membina dan memotivasi para remaja agar tetap semangat menghadiri pengajian-pengajian yang diselenggarakan. Dengan demikian, keimanan dan akhlak mereka dapat terus terjaga,” tuturnya.
Rifa’i menjelaskan bahwa usia remaja hingga pranikah merupakan masa yang paling rentan dan labil sehingga membutuhkan pembinaan yang kontinyu dan rutin. Melalui pembinaan tersebut, para remaja diharapkan mampu mempertahankan keimanan serta menerapkan 29 karakter luhur dalam kehidupan sehari-hari.
“Harapan kami, pembinaan terhadap para remaja ini terus dilanjutkan agar mereka memiliki benteng yang kuat dalam menghadapi berbagai kerusakan moral di akhir zaman. Dengan pembinaan yang berkesinambungan, mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang beriman, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Melalui pengajian bertema Fashion Pakaian Syar’i ini, LDII Surabaya berharap para remaja dapat semakin memahami pentingnya menjaga penampilan sesuai tuntunan agama sekaligus mampu menyikapi perkembangan fashion secara bijak. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pembinaan generasi penerus agar menjadi generasi profesional religius yang memiliki keimanan kuat dan akhlakul karimah. (ysy)
