SURABAYA – Remaja LDII Surabaya Generus Community mengikuti pengajian tematik di Masjid Al-Faried, Kedinding, Surabaya, pada Minggu (19/7). Kegiatan yang diikuti remaja jenjang SMP hingga SMA ini memadukan pembinaan keagamaan dengan pelatihan keterampilan membuat kerajinan manik-manik sebagai bekal kreativitas sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan.
Materi keterampilan disampaikan oleh Aliyah Faridl Aziziah, owner Handcraft by Aya, sebuah usaha kerajinan handmade yang memproduksi berbagai aksesori berbahan manik-manik, seperti gelang, gantungan kunci, bag charm, dan phone strap. Berbekal pengalamannya sebagai pelaku UMKM, Aliyah mengajak peserta mengenal proses pembuatan produk handmade hingga melihat peluang bisnis yang dapat dikembangkan dari keterampilan tersebut.
Aliyah menjelaskan, pemilihan materi manik-manik didasarkan pada tingginya minat masyarakat terhadap kerajinan tersebut yang saat ini tengah menjadi tren di berbagai kalangan, khususnya remaja. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengalaman baru, tetapi juga wawasan mengenai keterampilan yang berpotensi memberikan nilai ekonomi.
“Saat ini manik-manik sedang menjadi tren di kalangan remaja, bahkan juga diminati anak-anak hingga orang dewasa. Kami ingin memberikan pengalaman sekaligus pengetahuan kepada peserta tentang keterampilan handmade agar mereka memiliki bekal kreativitas sejak dini,” ujarnya.
Selain mengajarkan teknik merangkai manik-manik, Aliyah juga mengenalkan berbagai nilai penting yang dibutuhkan dalam dunia usaha, mulai dari kesabaran, ketelitian, kreativitas, hingga cara membaca kebutuhan pasar. Menurutnya, keterampilan saja tidak cukup tanpa memahami bagaimana sebuah produk dapat diminati konsumen.
“Peserta kami ajarkan berbagai variasi manik-manik, melatih kesabaran dan ketelitian, sekaligus mengenalkan cara membaca target market serta dasar-dasar berdagang. Harapannya mereka tidak hanya bisa membuat produk, tetapi juga memahami bagaimana karya tersebut memiliki nilai jual,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses membuat kerajinan handmade secara tidak langsung membentuk karakter generasi muda menjadi lebih kreatif, produktif, dan tidak mudah menyerah. Setiap karya membutuhkan proses trial and error sehingga melatih peserta untuk terus belajar hingga menghasilkan produk yang berkualitas.
Aliyah berpesan bahwa keterampilan tersebut dapat menjadi peluang usaha apabila ditekuni dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, sudah banyak remaja yang berhasil menjadikan kerajinan handmade sebagai sumber penghasilan, sehingga peluang yang sama juga terbuka bagi generasi muda LDII.
“Kalau ada niat dan tekad yang kuat, keterampilan ini bisa menjadi peluang usaha di masa depan. Saya berharap peserta bangga dengan hasil karyanya, tidak mudah putus asa ketika mengalami trial and error, terus berlatih, dan siapa tahu suatu saat mampu mengembangkan usaha dari keterampilan yang telah dipelajari,” tutupnya.
Melalui pengajian tematik ini, Surabaya Generus Community berupaya menghadirkan pembinaan yang tidak hanya memperkuat nilai-nilai keagamaan, tetapi juga membekali remaja dengan life skill yang relevan dengan perkembangan zaman. Dengan memadukan pembinaan karakter dan keterampilan, diharapkan lahir generasi muda LDII Surabaya yang religius, kreatif, produktif, serta mampu melihat peluang usaha dari potensi yang dimiliki. (ysy)
